Selasa, 24 Januari 2017

Ketua DPC PDIP Surabaya Serukan Habisi FPI Sampai ke Akar-Akarnya

Menindaklanjuti imbauan Sekjen DPP PDIP Hasto Kristianto, DPC PDIP Kota Surabaya dibawah komando Whisnu Sakti Buana sebagai ketua menggelar ‘Mimbar Untuk Rakyat’ di Kantor DPC Jl Kapuas Surabaya.

Hadir sebagai undangan, beberapa ketua DPC dan perwakilan partai lain diantaranya Hanura dan Nasdem serta PCNU Kota Surabaya, yang seluruhnya sepakat untuk mendukung sekaligus turut berjuang untuk misi pembubaran Ormas FPI pimpinan Rizieq Sihab.

Dalam sambutannya, Saifudin Zuhri Sekretaris DPC PDIP Surabaya dengan tegas mengatakan bahwa Ormas FPI adalah gerombolan pengacau yang berniat untuk memecah belah bangsa dengan memakai agama sebagai sarananya.

“Saya minta kepada seluruh warga Surabaya terutama kader PDIP agar menyikapi tindakan dan ucapan kelompok tertentu (FPI) yang ingin memecah belah bangsa, merongrong kewibawaan NKRI, dengan ini kami siap untuk perang,” ucapnya, Minggu (22/1/20170 pukul 22.10 wib.

Tidak hanya itu, Saifudin Zuhri juga menyatakan jika dirinya bersama seluruh kader PDIP  se Surabaya hanya tinggal menunggu perintah dari DPP, termasuk jika diperintahkan untuk berperang

“Saat ini memang hanya beberapa yang diundang, tetapi besok akan kami undang semua ormas, dan yang perlu dicatat, jika Surabaya diperintahkan untuk berangkat perang, kami akan siap,” tandasnya.

Sementara Whisnu Sakti Buana ketua DPD PDIP Surabaya juga tidak kalah garangnya dalam memberikan sambutan di acara mimbar untuk rakyat ini, karena dengan tegas mengajak seluruh komponen masyarakat terutama kader PDIP se Surabaya untuk menghabisi FPI sampai ke akar-akarnya.

“Kalau ada yang mengatakan jika FPI itu mewakili semua umat muslim, saya yang terlahir sebagai muslim, tapi hingga saat ini saya tidak pernah mengakui Rizieq Sihab sebagai Habib, arek Suroboyo menyebutnya si Resek, kalau si Resek jadi tukang resek yo di entek,i (dihabisi) pisan ae, kalau FPI akan mendirikan negara Islam kita habisi sampai ke akar-akarnya,” ujarnya dihadapan seluruh kader partainya.

Tidak hanya itu, politisi PDIP yang kini menduduki posisi sebagai Wakil Wali Kota Surabaya ini juga mengajak seluruh undangan yang hadir untuk memekikkan takbir versi PDIP Surabaya.

“Kita kumandangkan dari Surabaya takbir yang berbeda di seluruh nusantara yakni ‘Allohuakbar Merdeka’,” teriaknya yang seraya disambut dengan teriakan yang sama oleh seluruh kader dan undangan yang hadir.

WS-sapaan akrab Whisnu Sakti Buana- menyampaikan bahwa Kota Surabaya adalah hasil perjuangan bersama berbagai suku dengan latar belakang agama yang berbeda-beda.

“Sejarah membuktikan bahwa bumi Surabaya dipertahankan tidak hanya oleh satu suku atau agama, tetapi oleh semua golongan, karena pada saat Kyai Hasim Ashari mengumadangkan untuk berjihad dan berjuang waktu itu, tanpa memandang suku dan agamanya apa,” ungkapnya.

Sementara Kusnadi Ketua DPD PDIP Jatim, berusaha menjelaskan kepada masyarakat jika tak satupun kalimat pidato Ketum PDIP Megawati Soekarno Putri yang saat ini dipersoalkan Rizieq Sihab dan FPI nya, mengarah kepada upaya menistakan agama.

“Kalimat yang mana yang bisa dianggap menistakan agama,” ucapnya sesaat setelah membacakan isi pidato Ketum PDIP Megawati Soekarno Putri yang menurutnya bersifat tertutup. (q cox)

Berikut adalah isi deklarasi bersama’Jaga NKRI’ warga Kota Surabaya yang disampaikan oleh DPC PDIP Kota Surabaya:

Atas nama Tuhan Yang Maha Esa. kami segenap warga Kota Surabaya, baik sebagai kelompok maupun secara perorangan. berjanji:

1. Menjujung Tinggi Pancasila. UUD'45. Bhinneka Tunggal ika, dan Negara Kesatuan Republik lndonesia.

2.Menghormati dan Menghargai adanya Perbedaan Suku, Agama, Ras. dan Penganut Kepercayaan yang diakui oleh negara. sebagai aset dan kekayaan Bangsa indonesia yang harus senantiasa kita jaga secara bersama.

3.Menghormati dan Menjaga Kerukunan dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. dengan Tetap Menjujung Tinggi Norma-Norma Sosial dan Etika Pergaulan sesuai Jati Diri dan Kepribadian Bangsa indonesia yang Ramah dan Penuh Kesantunan.

4. Membela Kebenaran dan Keadilan secara Bersama, tanpa membeda-bedakan Suku. Agama, Ras, dan Golongan.

5. Berperan Aktif secara Gotong Royong dalam Proses Pembangunan Bangsa dan Negara indonesia untuk Menuju pada Suatu Tatanan Masyarakat yang Adil dan Makmur sesuai Cita-Cita Proklamasi 17 Agustus 45.

Surabaya, 22 Januari 2017

Sumber: Suarapubliknews.net

Habib Rizieq Anti Demokrasi Tapi Hidup Makmur di Negara Demokrasi

Menurut Habib Rizieq, Demokrasi itu haram, sistem kufur, demokrasi lebih bahaya dari babi, demokrasi bisa membuat orang murtad keluar dari islam.
Hal itu disampaikan oleh Rizieq Shihab dalam ceramahnya tentang NKRI Bersyariah, seperti yang dimuat oleh media online islam radikal arrahmah.com, Selasa 2 April 2013.


JAKARTA (Arrahmah.com) – Secara konstitusional sebenarnya NKRI adalah negara yang berlandaskan syariat Islam, melalui kesepakatan para ulama dengan kaum nasionalis dalam persiapan kemerdekaan pada waktu itu telah terbentuk Piagam Jakarta. Namun dalam perjalanannya kaum nasionalis sekuler menghianati kesepakatan tersebut.

Salah satunya ialah bentuk negara yang secara kontitusi disebutkan bahwa Indonesia adalah negara musyawarah yang tercantum dalam sila ke-4, namun oleh rezim yang berkuasa sejak awal kemerdekaan hingga hari ini diselewengkan menjadi negara demokrasi. Akibatnya selama puluhan tahun rakyat dicekoki dengan pemahaman demokrasi, sistem kufur dari bangsa barat. Dan tidak sedikit pula yang akhirnya tersesatkan dengan menyamakan bahwa demokrasi adalah musyawarah itu sendiri. Demikian penjelasan Habib Rizieq dalam ceramahnya tentang NKRI Bersyariah beberapa waktu lalu di Bojong Gede Bogor.

“Musyawarah itu beda dengan demokrasi. Musyawarah itu ajaran Islam, perintah Allah Swt sedangkan demokrasi itu sistem batil, sistem kufur dari orang-orang kafir yang haram untuk di ikuti,” ujar Habib.

“Dalam musyawarah segala apa yang sudah ada ketetapan hukum dari Allah dan Rasul-Nya itu tidak boleh dirubah, yang di musyawarahkan hanya teknisnya saja. Contohnya seperti minuman keras, hukumnya sudah haram tidak boleh diganti lagi. Namun berbeda dengan demokrasi, dengan suara terbanyak minuman keras menjadi boleh, contohnya seperti Kepres No 3/thn 1997 tentang bolehnya miras beredar di masyarakat dengan kadar dibawah 5%,” papar ketua umum FPI ini.

Tentang hukumnya demokrasi, secara tegas Habib Rizieq juga mengatakan bahwa demokrasi itu haram dan lebih bahaya dari babi. “Demokrasi lebih bahaya dari babi. Jika kita colek babi itu terkena najis mugholadoh, dan jika dibersihkan 7 kali maka kembali suci. Jika dimakan dagingnya kita akan berdosa namun tidak jatuh kafir. Namun jika demokrasi dibenak kaum muslimin maka dia ridho hukum Allah dipermainkan, maka dia bisa murtad keluar dari islam. Demokrasi bisa memurtadkan kita,” tegas Habib.

“Maka dari itu mulai saat ini, buang jauh-jauh dari pikiran kita bahwa Indonesia negara demokrasi, ganti dengan bahwa negara Indonesia adalah negara musyawarah. Itulah yang sesuai dengan landasan konstitusional dan cita-cita para pendiri bangsa ini,” pesannya.


Habib Umar bin Hafidz Bicara Soal Sebab Pandangan Ekstrimis dalam Islam

Habib Umar Bin Hafidz berbicara:
Tentang Tindakan ekstrimis:

Apa yang menyebabkan sekelompok orang memiliki pandangan garis keras (ekstrim) dalam Islam?
Saya percaya penyebabnya karena mereka memaknai agama tanpa wawasan dan mereka memahami keputusan hukum dengan cara yang terputus dari rantai penularan, (sanad) atau dengan kata lain mereka mengambil pengetahuan dari orang/tempat yang tidak layak menyampaikan..
Diriwayatkan dari Ibnu Sirin dicatat dalam Sahih Muslim: ". Pengetahuan ini adalah agama jadi berhati-hatilah dari siapa Anda mengambil agamamu" Dia juga mengatakan: "sanad adalah bagian dari agama dan seandainya bukan karena itu siapa pun bisa mengatakan apa pun yang mereka ingin katakan. "Dengan hilangnya sanad kita menemukan pemahaman yang menyimpang dari Hukum Suci dan hukum-hukumnya. Akan muncul kevakuman yang memungkinkan adanya pintu masuk dari keinginan rendah, sehingga menganggap agama dgn sudut pandang pribadi dan mengklaim telah berada di landasan yang benar. Karena itu ia mungkin melawan agama sambil berpikir dia telah melayani atau menaati perintah Allah Ta'ala.
Segelintir orang ingin membuat pemahaman mereka tentang Al Qur an dan Sunnah, sedangkan itu sebenarnya hanya pemahaman mereka sendiri. Pemahaman yang sempit ini menyebabkan mereka selalu melihat ada sisi negatif pada Muslim lain, menyebabkan perselisihan dan, jika dibawa ke ekstrem, mereka membuat hukum pembunuhan atas nama jihad.
seorang Muslim yang menginginkan untuk mencapai kedekatan dgn Allah tidak harus membuat agamanya diatas dasar permusuhan atau penyebab konflik antara dirinya dan orang lain.
Agama Allah dalam bentuk yang benar didirikan setelah melihat pada penciptaan dengan cara yang luas dan setelah menunjukkan kemurahan dan kasih sayang kepada orang-orang beriman. Siapa pun yang mengikuti jalan yang benar meningkat dalam kerendahan hati kepada Allah dan dalam menunjukkan etiket kepada-Nya karena takut kepada-Nya. Orang seperti itu merasa bahwa hatinya meningkat dalam pencahayaan dan wawasan dan ia menemukan ketenangan dalam mengingat Allah. Tanda tanda kebenaran dalam beriman kemudian menjadi jelas nyata dalam dirinya.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْناً وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَاماً
Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (QS Al Furqan: 63)
وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّداً وَقِيَاماً
Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. (QS Al Furqan: 64)
Seorang mukmin harus menjauhkan diri dari kelompok garis keras manapun dan ilmu/cara yang digunakan untuk memperoleh kebenaran yang melemahkan dalam dirinya dan penyebab sombong, mengurangi rasa takutnya kepada Allah dan mengurangi ketenangan meski telah berdzikir..
Banyak kelompok mereka mengambil konsep yang benar, tetapi mencampurinya dengan pola pikir mereka sendiri. Yang menyebabkan orang menjadi bingung.
Allah Ta'ala telah menjelaskan kepada kita bahwa ilmu yang meningkatkan rasa takut kita pada Allah adalah ilmu yang bermanfaat.
Allah berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى الَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗإِنَّ الَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang orang berilmu.(ulama)
Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun.
Jadi siapa saja yang mencari ilmu tapi tidak mencari pembimbing yang benar (ulama bersanad) dan belum dibangun di atas fondasi yang benar. dikhawatirkan hanya akan menjauhkan jarak dari Allah..
Allah tidak akan meninggalkan orang beriman yang tulus dalam kesulitan atau kebingungan melainkan ia menjelaskan kepadanya kebenaran. Dia harus menyaksikan bahwa orang lain mungkin memiliki unsur kebenaran.. Kelapangan hati akan mencegah hati seseorang dari mengisi dengan kemarahan dan akan membantu dia untuk hidup berdampingan dalam masyarakat dengan damai.
آللّهُمَ صَلّیۓِ ۈسَلّمْ عَلۓِ سَيّدنَآ مُحَمّدْ وَ عَلۓِ آلِ سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ
Wallahu`alam
Sabtu, 22 Oktober 2016

Ribuan Santri Penuhi Monas dalam Upacara Hari Santri Nasional 2016

Ribuan santri Nahdatul Ulama mengikuti upacara peringatan Hari Santri Nasional (HSN) yang diselenggarakan di pelataran lapangan Monas, Jakarta. Upacara HSN dipimpin oleh Wakapolri Komisaris Jenderal Polisi Syarifuddin. 

Dalam sambutannya, Syarifuddin secara khusus memberi perhatian kepada para santri yang dianggap punya peran strategis dalam kepemimpinan nasional.

" Semoga di masa mendatang, santri dapat menjadi pionir bagi kemajuan bangsa," kata Syarifuddin, Sabtu, 22 Oktober 2016.

Dia juga berharap, kontribusi santri tak hanya dapat berperan sebagai agen perubahan semata. Dia meminta para santri untuk kontribusi dalam menjaga ketertiban dan keamanan nasional.

" Saya minta santri menjadi agen Kamtibnas, menghindari permusuhan, toleransi, dan tindakan pemecah bangsa," kata dia.

Senada dengan Syarifuddin, Ketua Pengurus Besar Nahdatul Ulama KH Said Aqil Siradj mengatakan peran HSN harusnya dapat menjadi momentum mempertahankan kedaulatan Indonesia. Sebab, sejak lama para ulama telah berjuang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
" Santri telah mewakafkan cita-cita kebhinekaan," ucap Said.

Syafruddin mengingatkan kepada generasi muda pada umumnya agar bisa meneladani kaum santri. Sebab merekalah elemen generasi muda bangsa yang selalu membangun semngat cinta tanah air.

“Saat ini, santri juga menjadi pioner pengembangan Iptek dan Imtak sekaligus sebagai modal memajukan bangsa Indonesia,” ujar Komjen Syafruddin di hadapan sekiat 50.000 santri yang memadati halaman Monas bagian utara.

Syafruddin yang hadir didampingi Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M. Iriawan mengimbau kepada masyarakat Indonesia pada umumnya agar bahu-membahu mewujudkan negara yang aman, damai, ramah, dan toleran.

Hal itu menyikapi sering terjadinya tindakan anarkis dari segilintir kelompok dengan mengindahkan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang santun dan ramah. Menurutnya, santri harus terus ikut aktif menjaga keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat.

(foto: dream.co.id)

Sejarah Resolusi Jihad NU dan Perang Empat Hari di Surabaya

Oleh K Ng H Agus Sunyoto
Hari ini 71 tahun silam, tepatnya tanggal 22 Oktober 1945, terjadi peristiwa penting yang merupakan rangkaian sejarah perjuangan Bangsa Indonesia melawan kolonialisme. Dikatakan penting, karena hari ini, 71 tahun silam, PBNU yang mengundang konsul-konsul NU di seluruh Jawa dan Madura yang hadir pada tanggal 21 Oktober 1945 di kantor PB ANO (Ansor Nahdlatul Oelama) di Jl. Bubutan VI/2 Surabaya, berdasar amanat berupa pokok-pokok kaidah tentang kewajiban umat Islam dalam jihad mempertahankan tanah air dan bangsanya yang disampaikan Rais Akbar KH Hasyim Asy’ari, dalam rapat PBNU yang dipimpin Ketua Besar KH Abdul Wahab Hasbullah, menetapkan satu keputusan dalam bentuk resolusi yang diberi nama “Resolusi Jihad Fii Sabilillah”, yang isinya sebagai berikut:

“Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja)…” 

Dalam tempo singkat, Surabaya guncang oleh kabar seruan jihad dari PBNU ini. Dari masjid ke masjid dan dari musholla ke musholla tersiar seruan jihad yang dengan sukacita disambut penduduk Surabaya yang sepanjang bulan September sampai Oktober telah meraih kemenangan dalam pertempuran melawan sisa-sisa tentara Jepang yang menolak tunduk kepada arek-arek Surabaya. Demikianlah, sejak dimaklumkan tanggal 22 Oktober 1945, Resolusi Jihad membakar semangat seluruh lapisan rakyat hingga pemimpin di Jawa Timur terutama di Surabaya, sehingga dengan tegas mereka berani menolak kehadiran Sekutu yang sudah mendapat ijin dari pemerintah pusat di Jakarta.

Sesungguhnya, saat Resolusi Jihad dikumandangkan oleh PBNU, Perang Dunia II sudah selesai karena Jepang sudah takluk sejak 15 Agustus 1945. Kedatangan balatentara Inggris ke Jakarta, Semarang, Surabaya adalah dalam rangka penyelesaian masalah interniran dan tawanan perang Jepang, yang di dalam prosesnya ditandai oleh maraknya isu kembalinya pemerintah Kolonial Belanda ke Indonesia dengan membonceng balatentara Inggris. Sementara pada pekan kedua Oktober 1945, Presiden Soekarno mengirim utusan khusus ke Pesantren Tebuireng, menemui KH Hasyim Asy’ari, untuk meminta petunjuk dan arahan guna memecahkan kegundahan hati presiden.

Pasalnya, sampai bulan Oktober ini, belum ada satu pun Negara di dunia yang mengakui kemerdekaan Indonesia dan mengakui Negara Indonesia, akibat usaha-usaha pemerintah Belanda yang menyebarkan berita provokatif ke seluruh dunia bahwa Republik Indonesia yang dipimpin Soekarno dan Hatta, adalah Negara boneka bikinan Fasisme Jepang. Bagaimana meyakinkan dunia bahwa Republik Indonesia bukan negara boneka bikinan Fasisme Jepang, melainkan Negara Kebangsaan (Nation State) yang didukung rakyat seluruhnya. 

Seruan Resolusi jihad yang dikumandangkan PBNU dalam keadaan perang sudah berakhir lebih sebulan silam, dinilai sebagian elit pemimpin Negara di Jakarta sebagai mengada-ada. Bahkan sehari sesudah Resolusi Jihad diserukan, sepanjang hari sejak pagi tanggal 24 Oktober 1945, Bung Tomo melalui pidatonya menyampaikan pesan kepada arek-arek Surabaya agar jangan gampang berkompromi dengan Sekutu yang akan mendarat di Surabaya. Sebagai wartawan Bung Tomo sudah mendapat informasi bahwa pasukan Sekutu akan mendarat di Surabaya tanggal 25 Oktober 1945, sehingga tanggal 24 Oktober 1945 pagi, Bung Tomo sudah berpidato mengobarkan semangat rakyat Suranaya, dengan isi pidato sebagai berikut:

“Kita ekstrimis dan rakyat, sekarang tidak percaya lagi pada ucapan-ucapan manis. Kita tidak percaya setiap gerakan (yang mereka lakukan) selama kemerdekaan Republik tetap tidak diakui! Kita akan menembak, kita akan mengalirkan darah siapa pun yang merintangi jalan kita! Kalau kita tidak diberi Kemerdekaan sepenuhnya, kita akan menghancurkan gedung-gedung dan pabrik-pabrik imperialis dengan granat tangan dan dinamit yang kita miliki, dan kita akan memberikan tanda revolusi, merobek usus setiap makhluk hidup yang berusaha menjajah kita kembali!”

“Ribuan rakyat yang kelaparan, telanjang, dan dihina oleh kolonialis, akan menjalankan revolusi ini. Kita kaum ekstrimis, kita yang memberontak dengan penuh semangat revolusi, bersama dengan rakyat Indonesia, yang pernah ditindas oleh penjajahan, lebih senang melihat Indonesia banjir darah dan tenggelam ke dasar samudera daripada dijajah sekali lagi! Tuhan akan melindungi kita! Merdeka! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”

Suasana panas yang membakar semangat penduduk Kota Surabaya akibat pengaruh Resolusi Jihad dan pidato yang disampaikan Bung Tomo, makin memuncak sewaktu kapal perang Inggris HMS Wavenley menurunkan pasukan di dermaga Modderlust Surabaya pada 25 Oktober 1945. Karena tokoh-tokoh Surabaya menolak penurunan pasukan Inggris ke Surabaya, maka pihak Inggris mengirim Captain Mac Donald dan Pembantu Letnan Gordon Smith untuk menemui Gubernur. Bersandarnya HMS Wavenley sendiri pada dasarnya merupakan hasil perundingan yang sulit, karena sehari sebelumnya, tanggal 24 Oktober 1945, sewaktu diadakan perundingan di Modderlust antara utusan Sekutu yang diwakili Colonel Carwood dan pihak TKRL yang diwakili Oemar Said, J.Soelamet, Hermawan, dan Nizam Zachman terjadi jalan buntu. Semua permintaan Sekutu ditolak. 

Pidato Bung Tomo dan jalan buntu perundingan sekutu dengan TKRL masih ditambah dengan pidato Drg Moestopo pada malam hari jam 20.00, yang menyatakan diri sebagai Menhan RI yang tegas-tegas menolak Sekutu untuk mendaratkan pasukan dan bahkan menyebut Sekutu sebagai NICA. Sekutu yang dari laporan intelijennya mengetahui bahwa Drg Moestopo adalah seorang dokter gigi yang aktif sebagai perwira PETA, membalas pidato lewat pemancar radio dari kapal yang isinya,”We don’t take any order from anybody, we don’t have the command of a dental surgeon!” Jawaban Inggris yang bernada humor itu, menunjuk bahwa pihak Inggris tidak sedikit pun memiliki bayangan bahwa mereka akan menghadapi pertempuran di Surabaya.

Bahkan pidato Bung Tomo, ketegasan TKRL menolak permintaan Sekutu untuk mendaratkan pasukan, tindakan Drg Moestopo yang juga melarang Sekutu mendaratkan pasukan, dianggap aneh oleh hampir seluruh pemimpin di Jakarta, sebab tindakan itu dinilai tidak sesuai dengan kebijakan pemerintah pusat di Jakarta dan potensial menyulut konflik berdarah baru. Itu sebabnya pemerintah mengirim Mr Soedarpo, Mr. Kasman Singodimedjo dan Mr. Sartono untuk memberitahu Drg Moestopo agar bersedia membiarkan Sekutu menjalankan tugasnya. Namun Drg Moestopo tidak sedikit pun mengikuti petunjuk dari para pejabat tinggi Negara itu. Sikap tegas Drg Moestopo baru melunak setelah pagi hari tanggal 25 Oktober 1945 ia ditelpon langsung oleh Presiden Soekarno dan diperintah agar tidak menembak Sekutu. Presiden Soekarno mengingatkan bahwa sebagai perwira mantan didikan PETA, Drg Moestopo harus patuh kepada presidennya. 

Tanggal 25 Oktober 1945 itulah HMS Wavenley bersandar di dermaga Modderlust dan mengirim Captain Mac Donald dan Pembantu Letnan Gordon Smith untuk menemui Gubernur. Dengan siasat mengundang jamuan minum teh sambil berunding, Sekutu memanfaatkan kunjungan gubernur untuk melihat tawanan di Kalisosok dengan mendaratkan pasukan secara besar-besaran. Tindakan ini mengudang reaksi keras penduduk. Lalu diadakan perundingan antara Drg Moestopo dengan Kolonel Pugh. Hasilnya, pasukan Sekutu berhenti pada garis batas 800 meter dari pantai ke arah kota. Sekali pun pasukan sekutu berada di garis batas 800 meter dari pantai ke arah kota, namun pasukan yang diturunkan dari kapal jumlahnya sekitar 2800 personil dari Brigade ke-349 Mahratta yang dilengkapi dengan persenjataan perang modern.

Tindakan para pemimpin dan rakyat Jawa Timur untuk tegas menolak pendaratan pasukan Sekutu yang menjalankan tugas mengurusi interniran dan tawanan perang Jepang yang terlihat dari pidato Bung Tomo, Pidato Drg Moestopo dan sikap TKRL yang mengejutkan para pemimpin di Jakarta dalam kaitan dengan Resolusi Jihad yang dikumandangkan PBNU, tidak banyak diungkap dalam kajian sejarah modern di sekolah. Namun dengan memahami situasi dan kondisi waktu itu berdasar kesaksian para pelaku sejarah – yang saat ini sudah banyak yang meninggal dunia – tidak bisa ditafsirkan lain kecuali akibat momentum sejarah yang terjadi saat itu yang mempengaruhi cara pandang dan keberhasilan pengobaran semangat rakyat dan pemimpin-pemimpin Jawa Timur oleh usaha sistematis untuk memicu pecahnya konflik besar. Dan momentum sejarah itu, tidak lain dan tidak bukan adalah dimaklumkannya Resolusi Jihad oleh PBNU tanggal 22 Oktober 1945.

Sementara itu, setelah mendaratkan pasukan Brigade ke-49 Mahratta dari HMS Wavenley, pagi hari tanggal 26 Oktober 1945 diadakan perundingan antara pihak RI yang diwakili oleh Wakil Gubernur Soedirman, Ketua KNI Doel Arnowo, Walikota Radjamin Nasution, dan wakil Drg Moestopo, Jenderal Mayor Muhammad dengan pihak Sekutu yang diwakili A.W.S. Mallaby beserta staf. Hasil perundingan, pasukan sekutu dalam menjalankan tugas mengevakuasi tawanan Jepang dan interniran Belanda diperbolehkan menggunakan beberapa bangunan di dalam kota. Markas Brigade ke-49 Mahratta ditetapkan di Jalan Kayoon. Namun persetujuan menggunakan beberapa bangunan itu digunakan secara curang, di mana Sekutu justru membangun pos-pos pertahanan yang menebar di berbagai tempat dari kawasan pantai hingga ke bagian tengah dan selatan kota. Di antara pos-pos pertahanan Sekutu yang diperkuat senapan mesin adalah yang di Benteng Miring, gedung sekolah al-Irsyad di Ampel, gedung Internatio, pabrik Palmboom, gedung Lindeteves, gedung Onderlingblang, jalan Gemblongan, sekolah HBS (SMA Kompleks Wijayakusuma-pen), Rumah Sakit Darmo, Gubeng, Dinoyo, pabrik Colibri, gudang BAT, Wonokromo, Don Bosco, dll.

Mendapati tindakan Sekutu membangun pos-pos pertahanan, Kolonel Jono Sewojo mendatangi Brigadir Jenderal A.W.S.Mallaby dan memprotes tindakan tidak jujur itu. Tapi dengan alasan untuk pertahanan diri dan melancarkan tugas-tugas yang dijalankan pasukan sekutu, pos-pos pertahanan memang penting dibuat. Kolonel Jono Sewojo yang perwira didikan PETA yang mengetahui bahwa pembangunan pos-pos pertahanan yang tersebar itu adalah bagian dari strategi pertahanan kota dengan tegas mengingatkan Mallaby tentang kemungkinan pecahnya pertempuran di Surabaya dengan keberadaan pos-pos pertahanan Sekutu itu. Ketika Mallaby bersikukuh dengan keputusannya untuk mempertahankan keberadaan pos-pos pertahanan itu, Kolonel Jono Sewojo dengan marah berdiri menunjuk muka Mallaby sambil berkata,”I remind you. If you shoot me, I shoot you back!” 

Ternyata bukan hanya Kolonel Jono Sewojo selaku kepala staf TKR Jawa Timur yang marah terhadap tindakan Sekutu yang di luar kesepakatan dengan pihak RI telah membangun pos-pos pertahanan , arek-arek Surabaya terutama para pemuda Islam yang terbakar seruan jihad fi sabilillah sangat marah. Kasak-kusuk menyebar bahwa pos-pos pertahanan yang dibangun Sekutu itu sebagai usaha untuk penjajah Inggris untuk memperkuat kembali kekuasaan kolonial Belanda dengan menggunakan bantuan pasukan Sekutu. Tanpa ada yang mengomando, sejak sore hari ratusan santri keluar pondok bersama pemuda-pemuda kampung di kawasan utara Surabaya keluar ke jalanan menuju pos-pos pertahanan Sekutu. Sekitar jam 16.00 tanggal 26 Oktober 1945, tanpa ada yang mengomando, dengan didahului teriakan Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! beratus-ratus santri tua dan muda beserta pemuda-pemuda dari kampung-kampung di Surabaya utara seperti Ampel, Sukadana, Boto Putih, Pekulen, Pegirikan, Sawah Pulo dipimpin Ahyat Cholil, kader Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO) yang aktif di Hisbullah, beramai-ramai menyerang pos pertahanan Sekutu di Benteng Miring di sebelah utara gedung sekolah Al-Irsyad. 

Ketika iring-iringan santri dan pemuda dari berbagai kampung itu sudah berada di lapangan sekolah al-Irsyad yang membentang di depan gedung sekolah al-Irsyad, pasukan Sekutu melepas tembakan. Puluhan orang tumbang dengan tubuh bersimbah darah. Namun diselingi teriakan Allahu Akbar! yang sambung-menyambung, beratus-ratus santri dan pemuda kampung itu terus menyerbu sambil mengacungkan bambu runcing, clurit, keris, tombak, samurai, dan senapan rampasan. Lalu seiring berhembusnya kabar tentang gugurnya sejumlah santri dan pemuda akibat ditembaki Sekutu, penduduk kampung beramai-ramai keluar dengan membawa aneka macam senjata. Dalam tempo singkat, gedung sekolah Al-Irsyad yang dijadikan markas tentara Brigade 49 Mahratta yang disebut penduduk sebagai “Gurkha” itu dikepung ribuan penduduk. Tembak-menembak berlangsung sampai malam hari. Santri dan pemuda yang tidak membawa senjata membalas tembakan tentara “Gurkha” dengan lemparan batu.

Di tengah hiruk tembak-menembak di Sekolah Al-Irsyad yang terkepung, diam-diam satu peleton pasukan Sekutu yang dipimpin Kapten Shaw dari pangkalan Inggris di Ujung menerobos masuk ke Reineer Boulevard. Pasukan ini adalah pasukan elit Inggris yang berusaha membebaskan Kapten Huijer, Kapten Groom dan Mayor Finley yang ditawan TKR sejak mereka tertangkap di Kertosono. Terjadi tembak-menembak antara pasukan Sekutu ini dengan para pengawal tawanan. Penduduk kampung Surabaya yang sudah siaga perang, begitu mendengar letusan senjata langsung berbondong-bondong ke Reineer Boulevard dan menyerang pasukan Sekutu. Dalam waktu singkat truk dan jep yang dinaiki pasukan Sekutu dibakar. Kapten Shaw dan prajuritnya lari tunggang-langgang dan dengan sisa kendaraannya pergi menuju pelabuhan. Beberapa orang di antara prajurit Sekutu tertembak tetapi berhasil diangkut ke kapal yang bersandar di pelabuhan. 

Arek-arek Surabaya yang rata-rata memiliki keahlian di bidang teknik dan perbengkelan mengetahui bahwa pertempuran melawan Sekutu tidak akan terhindarkan meski pihak penduduk kalah persenjataan. Itu sebabnya, sejak sore hari arek-arek Surabaya sudah bergerak sendiri dengan inisiatif sendiri-sendiri untuk memadamkan listrik kota, memutus jaringan telepon, menutup saluran air ledeng, dan menghentikan pasokan gas dalam kota. Menurut Mayor Jenderal Soengkono panglima pertempuran Surabaya yang mencatat bahwa tanggal 26 Oktober 1945 itu ditandai pecahnya pertempuran awal di Surabaya utara, yang membuat seluruh kota tenggelam dalam kegelapan malam yang tanpa lampu, tanpa air minum, tanpa telepon, tanpa gas, bahkan tanpa pasokan makanan karena seluruh jalanan kota sudah tertutup barikade-barikade yang dibikin penduduk.

Pagi hari tanggal 27 Oktober 1945 kota Surabaya gemetar diguncang kemarahan, sebab di tengah beredarnya kabar gugurnya santri dan pemuda yang mengepung pos pertahanan Sekutu di Sekolah Al-Irsyad beredar pula kabar bahwa Sekutu diam-diam mendaratkan lebih banyak pasukan ke Surabaya untuk memperkuat pos-pos pertahanannya. Penyerangan penduduk kampung terhasdap pos pertahanan di sekolah Al-Irsyad ditangkap pihak Sekutu sebagai tengara bakal pecahnya pertempuran dalam skala yang lebih besar. Itu sebabnya bala bantuan didatangkan untuk memperkuat pos-pos pertahanan yang tersebar di sejumlah kawasan strategis kota Surabaya. Dan warga kampung mulai memasang barikade-barikade di gerbang masuk kampungnya dengan kayu, bambu, drum, meja, kursi, ban, gedek, kawat, dll.

Kira-kira jam 09.00 di atas langit Surabaya melayang-layang pesawat militer jenis Dakota dari Jakarta menebarkan ribuan selebaran yang ditanda-tangani Mayor Jenderal D.C.Hawthorn yang berisi perintah kepada penduduk Surabaya untuk menyerahkan segala persenjataan dan peralatan Jepang kepada Sekutu. Perintah itu disertai ancaman, bahwa apabila masih ada orang membawa senjata akan langsung ditembak di tempat. Tentang peristiwa pesawat Dakota yang menyebarkan selebaran berisi ancaman itu, Christopher Bayiy dan Tim Harper dalam Forgotten Wars, the end of Brittain’s Asian Empire, mengungkapnya sebagai berikut: “On 27 September, there was an ill-advised airdrop of leaflets, demanding that the Indonesians surrender their arms within forty-eight hours or be shot. This was made without Mallaby's knowledge, and in contravention of local agreement, but it now had to be enforce. This was seen by the Indonesians as base of threachery. There were now convinced that the British were preparing to reoccupy the city for the Dutch." 

Ancaman Sekutu yang ditanda-tangani Mayor Jenderal D.G.Hawthorn itu disambut caci-maki dan tantangan oleh penduduk Surabaya. Suasana makin tegang. Di tengah ketegangan itu, tiba-tiba muncul kelompok-kelompok pasukan Brigade 49 Mahratta bergerak ke jalan raya utama Surabaya, melewati kantor Gubernuran sambil menempelkan selebaran-selebaran sepanjang jalan yang mereka lewati. Tindakan pasukan Inggris-India ini menyulut amarah para pemimpin dan seluruh penduduk Surabaya. Kira-kira jam 12.00 pecah pertempuran di depan Rumah Sakit Darmo yang dalam sekejap diikuti pertempuran di semua pos pertahanan Inggris di Keputran, Kayoon, Gubeng, Simpang, Ketabang, Kompleks HBS, Gemblongan, Dinoyo, Wonokromo, Palmboom, Lindeteves, Onderlingbelang, Benteng Miring.

Sebagaimana pertempuran sehari sebelumnya, perang “keroyokan” itu murni perkelahian missal yang disebut tawuran, di mana tidak ada pemimpin dan tidak ada taktik maupun strategi apa pun yang ditunjukkan penduduk. Tentara Inggris Brigade ke-49 Mahratta yang sudah berpengalaman di medan tempur Burma dan bahkan el-Alamein di Mesir itu, kebingungan menghadapi pertempuran dengan model tawuran dari kawanan orang-orang nekad yang tidak tahu mati.

Tanggal 28 Oktober 1945, TKR sebagai aparat pertahanan dan keamanan Negara yang harus tunduk dan patuh pada perintah pemerintah pusat di Jakarta, ternyata terprovokasi perlawanan arek-arek Surabaya, sehingga tanpa sadar ikut bertempur mengepung dan memburu tentara Inggris. Oleh karena sebagian besar TKR adalah didikan PETA, Heiho dan Hisbullah, jumlah tentara Inggris yang tewas pun dengan cepat bertambah. Brigadir Jenderal A.W.S.Mallaby yang menyaksikan pasukannya akan habis, buru-buru menghubungi atasannya: Jenderal Christison di Singapura. Mallaby minta agar dilakukan gencatan senjata, penghentian tembak-menembak. Tanggal 29 Oktober 1945, presiden Soekarno dan wakil presiden Moch. Hatta serta Menhan Amir Sjarifuddin datang ke Surabaya. Tanggal 30 Oktober 1945, gencatan senjata dicapai tetapi butuh sosialisasi karena komunikasi terbatas dengan akibat masih taksi tembak-menembak di berbagai tempat di Surabaya. Malangnya, sore hari dalam usaha sosialisasi gencatan senjata, Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby tewas digranat.

Inggris marah sekali mendapati jenderalnya tewas justru saat perang sudah selesai. Lebih marah lagi, yang menghancurkan pasukan Inggris beserta jenderalnya itu adalah inlander bodoh yang lemah dan terjajah ratusan tahun oleh Belanda. Begitulah, Mayor Jenderal E.C.Mansergh, pada 31 Oktober 1945 melontakan ultimatum agar rakyat Surabaya menyerahkan pembunuh Mallaby dan semua orang-orang liar yang bersenjata menyerahkan senjata kepada pasukan Inggris. Jika ultimatum tidak dijalankan, maka pada 10 November 1945 jam 10.00 Kota Surabaya akan dibombardir dari darat, laut dan udara. Mayor Jenderal E.C.Mansergh menghitung, kota Surabaya akan jatuh dan takluk dalam tempo tiga hari. 

Pertempuran besar di Surabaya pada 10 November 1945, yang menurut William H. Frederick (1989) sebagai pertempuran paling nekat dan destruktif -- yang tiga minggu di antaranya – sangat mengerikan jauh di luar yang dibayangkan pihak Sekutu maupun Indonesia. Dugaan Mayor Jenderal E.C.Mansergh bahwa kota Surabaya bakal jatuh dalam tiga hari meleset, karena arek-arek Surabaya baru mundur ke luar kota setelah bertempur 100 hari. 

Sementara ditinjau dari kronologi kesejarahan, Pertempuran Surabaya pada dasarnya adalah kelanjutan dari peristiwa Perang Rakyat Empat Hari pada 26 – 27 – 28 – 29 Oktober 1945, yaitu sebuah Perang Kota antara Brigade ke-49 Mahratta di bawah komando Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby dengan arek-arek Surabaya yang berlangsung sangat brutal dan ganas, dengan kesudahan sekitar 2300 orang -- 2000 orang di antaranya pasukan Brigade ke-49 termasuk Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby yang terbunuh pada tanggal 30 Oktober 1945 – tewas dalam pertempuran man to man itu. Dan Perang Rakyat Empat hari pada 26-27-28-29 Oktober 1945 itu terjadi akibat adanya seruan Resolusi Jihad PBNU yang dikumandangkan pada tanggal 22 Oktober 1945.


K Ng H Agus Sunyoto, sejarawan, Ketua Lesbumi PBNU
Jumat, 21 Oktober 2016

KH. Maimoen Zubair: Ahok Kan Sudah Minta Maaf, Jangan Dibesar-besarkan. Jaga Persatuan!

Surat Al-Maidah ayat 51 menjadi sorotan publik dan menjadi kontroversi setelah pernyataan dari   Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tentang Surat Al Maidah ayat 51 yang dianggap menistakan agama. Kasus ini pun membuat Pengasuh Pesantren Al Anwar Rembang, KH Maimoen Zubair Angkat Bicara. Beliau tidak meminta supaya Umat Islam di Indonesia turun tangan dan turun ke jalan mengadakan demo besar-besaran. Mbah Maimoen meminta seluruh umat muslim untuk tenang dan meredam amarah.

Apalagi Ahok sudah meminta maaf secara terbuka di hadapan publik. Pihaknya pun meminta agar umat Islam tak lagi terpecah belah dan membesar-besarkan masalah ini.

“Dia (Ahok) itu kan sudah meminta maaf, maka jangan dibesar-besarkan. Sehingga bila amarah dapat diredam maka persatuan juga bisa dijaga,” katanya.

Menurut ulama kharismatik tersebut, polemik Surat Al Maidah tersebut silahkan diserahkan ke pribadi masing-masing pemilih. Menurut dia, jika umat Islam di Jakarta tak ingin memilih Ahok karena alasan agama, tidak perlu dibesar-besarkan sehingga memicu isu SARA.

“Kalau menurut saya, bila mereka (Islam) tidak suka memilih ya tidak usah dipilih saja. Namun permasalahan itu jangan dibesar-besarkan,” ujarnya.

Ahok adalah warga keturunan Tionghoa yang berasal dari Bangka Belitung. Di daerah tersebut juga banyak warga Tionghoa yang memeluk agama Islam. "Dia itu orang China Bangka Belitung, di sana (Bangka Belitung) juga ada orang Islam China,” ujarnya.

Di Jawa Tengah menurut dia, juga ada masjid yang bercorak Bangka Belitung. Satu-satunya masjid tersebut berada di wilayah Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang Jawa Tengah.

“Di Sarang masjid saya itu satu-satunya masjid yang berkhaskan Belitung. Oleh sebab itu, perbedaan itu jangan dibesar-besarkan. Sehingga kita bisa hidup rukun. Yang penting kita umat Islam itu habluminallah harus dikuatkan, dan habluminannas harus selalu dijaga dengan baik,” harapnya.

Kamis, 20 Oktober 2016

Pelaku Penyerangan Polisi Tempelkan Stiker ISIS di Pos Polisi

foto: jawapos
Pos Polisi Lalu Lintas (Pos Polantas) di kawasan Pendidikan Cikokol, Kota Tangerang, diserang, Kamis (20/10/2016) sekira pukul 07.00 WIB.

Sultan Azianzah (22), pelaku penyerangan terhadap Kapolsek Tangerang Kota Kompol Effendi dan 4 anggotanya lebih dulu menempelkan stiker ISIS di pos lalu lintas Yupentek, Cikokol, Tangerang.

Pelaku mengamuk dan menyerang polisi saat ditegur karena menempelkan stiker tersebut. "Iya begitu kejadiannya," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono

Menurut saksi bernama Rendi, pelaku terkapara setelah ditembak petugas. Sedangkan polisi yang berjaga ditusuk pakai senjata tajam 9(sajam).

Rendi juga menuturkan bahwa polisi ditusuk karena melarang pelaku menempelkan stiker ISIS di Pos Polantas tersebut.

"Polisi tegur orang itu karena memasang stiker bertuliskan tulisan arab, tiba-tiba orang yang ditegur itu mengeluarkan senjata tajam dan membabi buta menusuk anggota polisi yang ada di sana," ujar Rendi.

Kini korban dibawa ke rumah sakit. "Karena mengalami luka parah," terangnya.

Pantauan di lokasi kejadian, puluhan anggota Polres Metro Tangerang telah bersiap siaga. Garis polisi pun sudah dipasang. Sedangkan bercak darah pada topi anggota lalu lintas masih terlihat.