Minggu, 11 Juni 2017

Subnahallah! KH. Said Aqil Islamkan 2 Warga Jepang di Bulan Ramadhan Ini



SUARA-MUSLIM.COM - Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siradj meng-Islamkan 2 warga Jepang di bulan Ramadhan tahun ini. Dua muallaf asal Jepang yang dibimbingnya yaitu :

1. Suzuki Masayuki dengan nama Islam (Umar Suzuki Masayuki)
2. Sakai Nobukazu, dengan nama Islam (Ali Sakai Nobukazu)

Alhamdulillah,
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!
Dengan demikian, seperti dilansir halaman fb Teras Kiai Said,  berarti selama ini Kiai Said telah mengIslamkan total 16 orang muallaf asal Jepang dengan latar yang berbeda-beda, ada yang pengusaha, walikota/pejabat pemerintahan Jepang dan masyarakat biasa. Semoga keberkahan menyelimuti para muallaf dan kami semua. Amiiinn..

(mr)


Sabtu, 10 Juni 2017

Santri Penghina Presiden dan Kapolri Tak Punya Niat Menghina, Tapi Kok Unggah 7 Meme Hinaan dalam Sepekan?

SUARA-MUSLIM.COM - Burhanudin (21), salah satu santri Pondok Pesantren di Pasuruan yang diringkus polisi mengaku menyesali perbuatannya yang telah menyebarkan gambar meme menghina Presiden Jokowi dan Kapolri Jenderal Polisi Tito melalui facebook miliknya.

Burhan ketika ditemui di rumahnya Desa Mangguna, Kecamatan Pasrepan, Kabupaten Pasuruan, Sabtu (10/6/2017), mengungkapkan permohonan maafnya pada semua pihak yang merasa dirugikan dalam unggahannya tersebut.

BACA JUGA: 

"Saya sangat menyesal, terutama untuk Pak Presiden. Saya tak punya niat menghina. Itu (meme) bukan saya yang buat, tapi hanya menyebarkan. Saya nggak bisa ngedit gambar-gambar seperti itu," kata Burhan.

Namun berdasarkan penelusuran suara-muslim.com, ditemukan setidaknya 7 (tujuh) meme atau gambar bertuliskan hinaan atau ujaran bernada kebencian beberapa pejabat tinggi Kepolisian dan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Meme-meme tersebut diumbar melalui dinding facebook, setidaknya terlihat selama sepekan berturut-turut, sejak tanggal 2 Juni hingga 8 Juni 2017. Bagaimana mungkin tidak punya niat menghina kalau menunggahnya saja sampai 7 kali dalam sepekan?


Pada informasi data yang terlihat di dinding akun facebook ‘Elluek Ngangenie’ (kini telah dinonaktifkan -red) secara berurutan dapat diketahui hinaan-hinaan yang sengaja diupload oleh Burhanuddin :
  • 2 Juni pukul 11.02 pm, meme Kapolri, Kapolda Metro Jaya dan Kabid Humas Polda Metro Jaya dinilai merupakan pengupload chat fitnah mesum Habib Rizieq syihab;
  • 3 Juni pukul 4.50 pm, meme Presiden Jokowi, diantaranya bertuliskan “wajahmu memang PEMBOHONG & PENCITRAAN”;
  • 4 Juni pukul 7.51, meme Presiden Jokowi, bertuliskan “SETUJUKAH ANDA SAYA TURUN DARI KURSI ke PRESIDEN an ?”;
  • 5 Juni pukul 9.13 pm, meme menyebut Presiden Jokowi bodoh;
  • 6 Juni pukul 6.59 pm, meme Presiden Jokowi, semacam mendoakan mati disetrum;
  • 6 Juni pukul 11.59 pm, meme Presiden Jokowi sedang berada diantara tumpukan ban dan digambarkan seolah sedang menambal ban dalam;
  • Serta pada 8 Juni pukul 7.30 am, meme menyebut Presiden tidak berguna.
Presiden RI ke-7 Joko Widodo (Jokowi) memang lebih paling banyak menjadi sasaran ujaran kebencian lewat unggahan gambar meme-meme di akun facebook 'Elluek Ngangenie' dalam beberapa pekan terakhir. Akun tersebut diakui Burhanudin miliknya.

"Saya minta maaf yang sebesar-besarnya pada Pak Presiden, dan juga pada Pak Polri dan lainya, saya menyesal sekali saya terpengaruh media," ujarnya menyesali perbuatannya.

Burhanudin sepertinya masih terlihat trauma setelah sempat diamankan di Polda Jatim. Ia ditemani oleh beberapa kerabat dan teman-temannya saat menemui wartawan.

Sangat disayangkan, tak ada efek jera, Burhan akhirnya dipulangkan Polda Jatim pada Sabtu (10/6) pukul 01.00 WIB, setelah menjalani pemeriksaan intesif. Meski dipulangkan, dia tetap dikenakan wajib lapor.

Disayangkan, Santri Penghina Presiden dan Kapolri Dipulangkan, Tak Ada Efek Jera

 
(foto: detik.com)
SUARA-MUSLIM.COM - Setelah kemarin diringkus Polda Jawa Timur, Burhanudin (21), santri Pondok pesantren di Pasuruan, dibebaskan. Burhanudin sudah dipulangkan ke rumahnya setelah menjalani pemeriksaan intensif.
 
"Saya diantar pulang jam satu malam (pukul 01.00 dini hari)," ujar Burhanudin di tempat tinggalnya yang berlokasi di Desa Mangguna, Kecamatan Pasrepan, Kabupaten Pasuruan, Sabtu (10/6/2017).

Walaupun masih terlihat trauma, Burhanudin menyanggupi permintaan wawancara wartawan ditemani kerabat dan sejumlah temannya. Ia mengaku mendapat perlakuan yang baik dari polisi selama menjalani pemeriksaan.

Burhanudin mengaku diberikan pembekalan oleh polisi agar tak mengulangi perbuatannya lagi dan lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial.

"Polisi baik memperlakukan saya. Saya dikasih pembekalan dan arahan," ungkap Burhanudin yang tak bisa menyembunyikan rasa traumanya.

Polda Jatim sendiri telah menetapkan Burhanudin sebagai tersangka penyebar ujaran kebencian. Ia dipulangkan setelah dijemput pada Kamis (8/6) siang. Setelah dilakukan pemeriksaan secara intensif, Burhanuddin kemudian dipulangkan ke rumah orang tuanya. "Saya harus wajib lapor," ujarnya.

Sebelumnya Polda Jatim meringkus Burhanudin kerena menghina Presiden Jokowi, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, serta pejabat polisi lainnya, dengan gambar tak senonoh yang tak sepantasnya diunggah di akun facebook miliknya. Ia mengunggah meme-meme atau gambar-gambar dan berisikan tulisan-tulisan keterangan yang bernada menghina, dalam beberapa waktu terakhir ini di akun facebooknya, 'Elluek Ngangenie'.

"Tersangka diamankan karena diduga menyebarkan kebencian terhadap pejabat negara Indonesia dan beberapa pejabat di Kepolisian Republik Indonesia," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jawa Timur Kombes Pol Frans Barung Mangera, Jumat (9/6/2017). 

(firman/sm)

Kesalahan Semboyan FPI Madura: "Saya Ikut NU-nya KH Hasyim Asyari"

Oleh: Kyai Ahmas Dardiri Zubairi
SUARA-MUSLIM.COM - Paska aksi 212, FPI sebagai motor aksi menyita perhatian umat Islam di Indonesia. Di media massa, apalagi di media sosial FPI nenjadi trending topik. Setiap hari nyaris tak ada pemberitaan tanpa FPI. FPI sebagai motor aksi telah memunculkan banyak spekulasi yang mengakibatkan sikap pro-kontra.
Sayup-sayup FPI tiba juga di Madura. Kebetulan organ yang memfasilitasi di Madura sudah siap, yaitu AUMA (Aliansi Ulama Madura), sebuah ormas baru yang yang lumayan keras. Karena itu dengan mudah FPI tinggal dikloning.
Sebagai ormas baru AUMA, yang 2-3 tahun kemarin didirikan, sepertinya mau mengulang peran Bassra yang ketika pemerintah ORBA kritis kepada penguasa, terutama berkaitan dengan rencana pembangunan jembatan Suramadu, meski saya melihat perannya sangat beda. Di samping fokus isunya berbeda, AUMA sepertinya memliki jaringan kuat dengan ormas senafas di Jakarta, makanya sangat mudah menfasilitasi berdirinya FPI di Madura. Ini berbeda dengan Bassra yang fokus pada isu lokal.
Bagi saya kehadiran ormas apapun sah didirikan. Selama dibutuhkan dan bisa memperkuat cita kemerdekaan dan bisa diharapkan menjadi corong Islam rahmatal lil alamin tak jadi masalah. Cuma ketika kehadirannya mengusik NU dan warga Nahdiyin serta visi kebangsaanm maka penting ormas baru ini disikapi. Tulisan ini hanya hendak merespon usikan terhadap NU tersebut.
Setidaknya dalam usaha merekrut massa, ada tiga isu yang sengaja diwacanakan FPI dalam pertemuan-pertemuan umum yang mengusik NU. Tiga isu ini penting direspon agar tidak menimbulkan kesalahpahaman terutama kepada warga nahdliyin.
Pertama soal isu bahwa petinggi FPI di Madura (setidaknya kasus di Sumenep ) selalu mengatakan dalam ceramahnya, “saya ini ikut NU-nya kyai Hasyim Asy’ari, NU “se kona” (yang dulu)”. Mafhum mukhalafahnya, sama NU sekarang kurang mengakui.
Bagi saya pernyataan seperti itu patut direnungkan. Pertanyaannya, bagaimana mau ikut KH. Hasyim pada hal tidak sezaman? Dari mana kita bisa meyakini bahwa NU kita sama dengan kyai Hasyim? Barangkali bisa dijawab bahwa pengikut FPI berpegangan terhadap kitab peninggalan kyai Hasyim. Tapi kalau pun mengacu kepada kitab kyai Hasyim, bukankah kita tidak bisa sepenuhnya mengatakan bahwa penafsiran atas teks kitab kyai Hasyim sama dengan kehendak kyai Hasyim?
Dengan kasus beda, hal ini mirip dengan kelompok Islam yang mengatakan ikut Nabi dengan berpegangan kepada Alqur’an dan Hadis sambil nenolak ijma’ dan qiyas. Dalam tradisi NU cara beragama seperti ini kurang bisa dipertanggungjawabkan karena tanpa sanad yang jelas.
Sama dengan berNU, kalau mengikuti NUnya kyai Hasyim dengan menolak NU sekarang berarti NUnya kurang bisa dipertanggungjawabkan karena tanpa sanad yang jelas. Pada hal sanad inilah yang menbedakan NU dengan kelompok lain.
Di samping sanad keilmuan, di NU juga dikenal sanad perjuangan. Secara kelembagaan, tentu saja sanad ini tak bisa diperoleh dengan meloncat ke masa kyai Hasyim tetapi bisa kita peroleh melalui sanad yang sudah terlembagakan melalui pesantren sekaligus NU dari masa ke masa hingga sekarang. Jadi, sanad ibarat mata rantai tak bisa digunting, tak bisa diputus.
Saya faham, sikap seperti di atas salah satunya dipicu oleh sikap dislike sebagian tokoh NU terhadap kyai Said Aqil. Kebetulan ada skenario besar yang terus-menerus mengeroyok kyai Said dengan informasi hoax sejak isu liberal, syiah, Ahoker, dsb yang sayangnya tanpa bertabayyun langsung dianggap sebagai kebenaran oleh sebagian warga NU yang nyeberang ke FPI.
Tetapi jika tidak suka ketua umum PBNU tak perlu menyerang NU. Apalagi sampai nyeberang ke organisasi lain. Apalagi lepas suka atau tidak kyai Said terpilih dalam muktamar NU, ini hasil ijma’ pengurus NU se Nusantara, Jika beliau dianggap salah sekalipun, ada mekanisme organisasi yang mengatur bagaimana masalah ini bisa diselesaikan. Bukan malah gabung ke organisasi lain sambil terus memojokkan NU apalagi hanya untuk merebut hati warga NU.
Dalam konteks inilah pernyataan bahwa “saya pengikut NUnya kyai Hasyim” tidak ada dasarnya dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bagaimana mungkin bilang pengikut NU kyai Hasyim, sementara pada saat bersamaan justru memojokkan jamiyah yang beliau dirikan?
Isu kedua yang sering dinyatakan pendukung FPI adalah, “amar ma’ruf ikut NU, nahy munkarnya ikut FPI”. Pernyataan ini seolah hendak menegaskan bahwa NU lembek, tidak tegas dan adem. Sementara FPI sebaliknya; tegas, lantang, dan berani.
Tapi ijinkan saya menjelaskan bahwa NU dalam menjalankan dakwahnya memiliki jalan dan cara sendiri, dan tentu saja NU tak perlu mengikuti jalan dan cara ormas lain. Jalan dan cara NU ini merupakan hasil dari endapan proses panjang yang sudah ditempuh sejak walisongo. Hasilnya bisa kita rasakan hingga sekarang.
Setidaknya ada tiga ciri dakwah NU. Pertama, tadriji dimana dakwah ditempatkan dalam proses panjang, tidak buru – buru, perlahan dan bertahap. Kedua, taklitut taklif yaitu tidak memberatkan masyarakat atau tidak memaksa. Ketiga, ‘adamul haraj yaitu tidak mengancam siapapun. Makanya dakwah wali songo yang menjadi sanad biologis NU selalu menempuh jalur kultural, sehingga dakwahnya berhasil, ibarat menangkap ikan, ikannya ditangkap tanpa mengeruhkan airnya.
Kedua, amar ma’ruf nahi munkar ibarat 2 sisi mata uang yang tak bisa dipisah. Ketika NU lebih mengedepankan amar ma’ruf sebenarnya include di dalamnya juga ada nahi munkar. Jika secara gradual mengajak orang agar shalat, hakikatnya mengajak orang itu agar tidak meninggalkan shalat. Tentu sesuai langgam dakwah NU, ajakan agar shalat dilakukan dengan lembut sebagaimana prinsip di atas. Dalam konteks ini, fiqhul ahkam dimodifikasi secara cerdas menjadi fiqhuddakwah dan fiqhussiyasi.
Sekali lagi NU memiliki jalan sendiri yang sering disebut “alaa thariqati Nahdlatil Ulama”. Jika tidak sama dengan ormas lain ya wajar. Nah, kalau ada orang NU mencampur aduk strategi dakwah NU dengan ormas lain menurut saya tidak tepat.
Isu ketiga yang sering saya dengar dihembuskan oleh pengikit FPI bahwa, ” yang penting aswaja, meski tidak ikut NU”. Pernyataan seperti di samping lemah, juga berbahaya. Persis seperti semboyan anak muda, “spirituality yes religion no” atau “spiritualitas yes, agama no”.
Kesalahan pertama menurut saya, pernyataan di atas ibarat seorang salik mau menggapai hakikat dan ma’rifat dengan melampaui syariat. Ia hanya butuh roh tanpa butuh jasad. Tentu dalam konteks Indonesia, apalagi pernyataan ini sengaja dihembuskan di lingkungan warga nahdliyin tentu sangat berbahaya.
Kesalahan kedua, beraswaja dan berNU bagi warga nahdliyyin mutlak diperlukan. Karena aswaja tanpa ada organisasi yang menopangnya akan mudah dihancurkan. Ingat aswaja di timur tengah dengan mudah bisa dipecah belah oleh kelompok lain karena tidak ada wadahnya.
NU dibangun oleh para kyai dulu dalam rangka “litauhidi shufufil ulama”, menyatukan shaf para ulama dalam meneguhkan dan memperjuangkan aswaja sekaligus melawan para penjajah. Maka jika ada pengikut aswaja tidak berNU hakikatnya ia tidak mau merapat dalam barisan ulama. Dan saya meyakini mereka akan mudah menjadi santapan kelompok lain yang bahkan tidak senafas dengan aswaja, misalnya salafi-wahabi atau HTI.
Mari rapatkan lagi barisan pengikut dan pendukung aswaja. Agar kuat masuklah kembali dalam barisan, beraswaja dan berNU. Jika ada yang tidak cocok baiknya tabayyun dan bermusyawarah. Bukan malah menyeberang ke organisasi lain sambil memojokkan NU. Kalau misalnya tetap tidak mau berNU, jangan mengajak warga nahdliyin sambil menyebar berita tidak benar dan atau memprovokasi dengan alasan-alasan yang bisa menimbulkan pertentangan di masyarakat.
Mari, stop menjadi setengah nahdliyyin.
Madura, 14 Ramadlan 1438 H
Kyai Ahmas Dardiri Zubairi, Wakil Ketua PCNU Sumenep, Madura.

Sumber: Muslimoderat.net

Jangan Lupa Nanti Malam Disunnahkan Baca Do'a Qunut saat Witir


SUARA-MUSLIM.COMPuasa kita kali ini telah sampai pada pertengahan bulan puasa, entah sedih atau senang yang harus kita rasakan. yang jelas ketika telah melewati 15 ramadhan ada tambahan dalam ibadah kita yaitu doa Qunut pada shalat witir, lalu apakah disunnahkan? kita lihat pendapat para ulama sebagai berikut:

Dalam Kitab Fathulwahab bab shalat sunnah :



.وان الجماعة تنذب فى الوترتقب التراويح جماعة وتقدم فى صفةالصلاةانه يسن فيه القنوت في النصف الثاني من رمضان


Disunnahkan berjama'ah dalam shalat witir bulan ramadhan dan juga disunnah kan berqunut pada separuh kedua bulan ramadhan dalam shalat witir.



Juga Dalam Kitab A-Wasit


 الوسيط (2/ 213)
الخامس القنوت مستحب في الوتر في النصف الأخير من رمضان بعد رفع الرأس من الركوع وقال أبو حنيفة يقنت قبل الركوع في الوتر جميع السنة وقال مالك بعد الركوع في جميع شهر رمضان وفي الجهر بالقنوت خلاف 


Yang ke 5 qunut disunnahkan pada shalat witir diseparuh akhir dari bulan ramadhan setelah mengangkat kepala dari rukuk, abu hanifah berpendapat sunnah melakukan qunut sebelum melakukan rukuk pada shalat witir dalam semua tahun, imam malik berpendapat qunut setelah rukuk pada shalat witir hukumnya sunnah dibulan ramadhan secara keseluruhan, adapun tentang hukum membaca nyaring pada qunut terjadi perbedaan pendapat

Al Adzkar An Nawawiyah menguraikan sebagai berikut :



ويستحبُّ القنوت عندنا في النصف الأخير من شهر رمضان في الركعة الأخيرة من الوتر، ولنا وجه أن يقنت فيها في جميع شهر رمضان، ووجه ثالث في جميع السنة وهو مذهبُ أبي حنيفة، والمعروف من مذهبنا هو الأوّل، واللّه أعلم

Disunnahkan berqunut dalam pandangan kami (Syafi’iyyah) :(1.)  boleh dilakukan pada separuh akhir bulan Ramadhan pada raka’at terakhir dari shalat witir, dan (2.) ada juga dikalangan kami ( syaafi'iyyah ) suatu pendapat  yang memperkenankan berqunut di sepanjang  bulan Ramadhan, Dan  pendapat yang ketiga (3) menyatakan bahwa  berqunut hendaknya dilakukan  pada seluruh shalat sunnah dan ( berQunut di semua sholat sunnah ) ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah. Dan yang bagus (ma’ruf) dari madzhab kami (Syafi’iyyah) adalah yang pertama ( berQunut di pertengahan ramadhan saja di rokaat penutup witir ). 
Dengan jelas demikian hukumnya, pada intinya dalam madzhab syafii disunnahkan untuk berqunut dalam shalat witir setelah 15 Ramadhan. Wallahu A’lam 
 

Sumber: Hamim Mustofa via Muslimoderat.net

Lagi, Simpatisan FPI Sebarkan Hoax Prajurit Kostrad Tidak Lepas Sepatu di Masjid

SUARA-MUSLIM.COM - Tidak Capek buat Hoax, kali ini anggota FPI dengan akun Verry Gheny menyebarkan info bohong dengan narasi berikut:

MASJID KAMI BUKAN SARANG TERORIS!
Apa Pantas Seperti Ini??
Di Rumah Allah (Masjid Raya Tasikmalaya) berkelakuan seperti ini, Di gereja kalian berani nga kayak gitu?
#Ingat2019 Tinggalkan Partai Pembenci Islam.


sampai saat ini telah 
5.414 kali dibagikan, berikut klarifikasi dari Penerangan Kostrad

Penjelasan terkait tuduhan akun FB a.n Very Gheny yang menyampaikan prajurit Kostrad tidak menanggalkan sepatu di mesjid sbb :

1. Saat pelaksanaan Gladi Pam RI 1 di Mesjid Raya Tasikmalaya, Tim dari YR 323 sebanyak 10 orang melaksanakan tugasnya sesuai prosedur standar pengamanan yang berlaku.

2. Kami pastikan, semua prajurit telah menanggalkan sepatu di luar mesjid dan menggunakan kaos kaki warna hitam yang terkesan seperti masih menggunakan sepatu PDL

3. Kepada penyebar berita (Vherry Gheny), tolong hentikan pernyataan yang tendensius yang bisa memecah belah persatuan dan kesatuan. Apabila ada yang perlu disampaikan silahkan hubungi kami dengan identitas yang jelas dan tidak menggunakan akun abal-abal.

4. Prajurit TNI melaksanakan tugas dengan memegang teguh Pancasila, Sapta Marga, Sumpah Prajurit dan 8 Wajib TNI, sangat mengerti dan paham yang harus dan dilarang dalam pelaksanaan tugasnya.

5. Pernyataan ini adalah untuk meluruskan pemberitaan yang tidak benar, dan kami harapkan oknum yang tidak bertanggung jawab menghentikan segala penyebaran hoax, pernyataan maupun isu yang bisa memecah belah persatuan dan kesatuan.

6. Semoga kita semua diberikan rahmat dan hidayat oleh Allah Swt di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, serta dijauhkan dari segala dengki, benci dan fitnah.

Amin YRA



Foto Alexander Joey Romelan.

sumber: muslimoderat.net

Baik Hati, Polres Rembang Berikan Baju Baru Gratis untuk Lebaran Lasykar FPI

MusliModerat.net - Polres Rembang Polda Jateng, Guna memberikan rasa aman dan nyaman serta untuk menciptakan situasi Kamtibmas kondusif,  Polres Rembang  menggelar apel pagi gabungan di Mapolsek Kaliori, Apel pagi langsung dipimpin Kapolres Rembang AKBP Sugiarto SH Sik Msi itu dilaksanakan dalam rangka memberikan himbauan kepada puluhan anggota FPI dari beberapa Daerah yang akan menghadiri Haul mbah Zubair ayah dari pengasuh Ponpes Al Anwar Sarang KH Maemun Zubair agar tidak mengenakan atribut maupun seragam FPI Jum’at (9/6/2017), .

Namun kegiatan himbauan untuk mencipatakan rasa aman nyaman serta mengantisipasi adanya gesekan tersebut, justru di media sosial diplintir seakan-akan aparat Kepolisian Polres Rembang melakukan pelucutan atribut personil Front Pembela Islam (FPI) yang datang ke Rembang pada Jum’at (9/6/2017), pagi.
Atas adanya kabar di Medsos itu Kapolres Rembang  secara tegas membantah atas kabar tersebut . justru pihak Polres Rembang memfasilitasi para personil FPI dengan memberikan berupa baju muslim yang baru.
Atribut yang dikenakan oleh para anggota FPI yang datang ke Rembang kami minta untuk melepasnya. Nah, kemudian kami ganti dengan baju muslim yang baru. Itu bukan melucuti, tapi kami mengganti,ungkapnya.
 justru pihak Polres Rembang memfasilitasi para personel FPI dengan pakaian muslim baru. 
FPI diminta mengganti pakaian dan atribut saat mengikuti pengajian di Ponpes Sarang RembangFPI diminta mengganti pakaian dan atribut saat mengikuti pengajian di Ponpes Sarang Rembang Foto: Istimewa

"Atribut yang dikenakan oleh para anggota FPI yang datang ke Rembang kami minta untuk melepasnya, kemudian kami ganti dengan baju koko baru. Itu bukan melucuti, tapi kami mengganti," ujar Sugiharto, Jumat (9/6). 

Kapolres mengaku pihaknya sebelumnya telah mendengar kabar rencana kedatangan personel FPI ke Rembang untuk mengikuti pengajian Haul Kyai Zubair di Pondok Pesantren Al Anwar Sarang. Guna mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan, polisi mengimbau FPI tidak ikut datang ke Rembang. 
Ramai soal Pelucutan Atribut FPI saat Hadiri Pengajian di RembangFoto: Istimewa

Pada Jumat pagi, pihak kepolisian mendapati lima unit mobil berisi penuh rombongan personel FPI datang ke Rembang lengkap dengan atributnya. 

"Belum tentu warga Rembang bisa menerima kedatangan tersebut, kami khawatir timbul gesekan. Sehingga inilah bentuk antisipasi kami," imbuhnya. 

Tak ada efek negatif dalam kejadian ini. Acara haul berlangsung lancar.
Ramai soal Pelucutan Atribut FPI saat Hadiri Pengajian di RembangFoto: Istimewa
Polres Rembang sebelumnya telah mendengar kabar rencana kedatangan personil FPI ke Rembang untuk mengikuti pengajian Haul Kyai Zubair di Pondok Pesantren Al Anwar Sarang.
Belum tentu warga Rembang bisa menerima kedatangan tersebut, kami khawatir timbul gesekan. Sehingga inilah bentuk antisipasi kami, imbuhnya.
Sementara itu, melalui akun facebook bernama ‘Front Pembela Islam – FPI’
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1917716038444642&id=1547884878761095
Dalam postingan yang diunggah pada Jum’at (9/6) sekira pukul 13.00 WIB menyebutkan bahwa pihak kepolisian resor Rembang melakukan tindakan pelucutan atribut yang dikenakan FPI. Selain itu dituliskan juga bahwa dalam kegiatan tersebut pihak kepolisian bertindak secara arogan.
Kami mengimbau kepada masyarakat utamanya pengguna media sosial agar lebih bijak dalam memanfaatkan akun. Selain itu agar tidak mudah terprofokasi dengan kabar yang belum tentu kebenarannya,” tandas Kapolres.
Adapun data pakaian yang di titipkan di Mapolsek Kaliori diantaranya :
Kaos putih kombinasi hijau lengan panjang dengan tulisan belakang FPI (Front Pembela Islam) Magelang berjumlah 16 (enam belas) biji , Sepatu warna putih 2 pasang, Sepatu PDL warna hitan 7 pasang , Sepatu biasa warna hitam 1 pasang, Kopel warna hitam 2 buah , Baju seragam PPP warna loreng kombinasi hitam putih lengan panjang 7 biji ,Rompi hitam 1 buah ,Baret warna hitam 1 biji , Topi hitam 1 biji ,
Penandatangan penitipan baju atribu FPI dilakukan oleh Ketua Laskar Pembela Islam (LPI) Jateng Sdr Achmad Rofi’.
Mulai sekarang tidak usah percaya dengan akunakun yang mengatasnamakan FPI jika kamu ingin bebas dari Hoax, lawong diberi baju baru untuk pengajian dan Lebaran kok dibilang dilucuti dengan paksa.