Jumat, 09 Juni 2017

Pelaku Persekusi Tidak Pernah Mempelajari Akhlak Nabi Muhammad SAW

Oleh Fathan Subchi

MusliModerat.net - Beberapa waktu lalu Habib Ali al-Jufri sempat menyampaikan pandangannya terhadap kondisi umat manusia kini. Menurutnya umat kini seolah terkotak-kotak pada ideologi dan agama. Maka tidak heran jika banyak tindakan radikal, ekstrim termasuk persekusi sebagai dalih membela agama. Kemudian di laman facebooknya ia berbagi kisah tentang kemuliaan Rasulullah. Habib Ali al-Jufri mengisahkan bahwa suatu ketika sedang lewat jenazah seorang Yahudi dan Rasulullah mau berdiri memberi penghormatan.

Kisah itu lengkap terekam dalam hadits shohih yang jika di terjemahkan kira-kira begini; “(Pernah terjadi) jenazah seorang Yahudi sedang lewat di hadapan Rasulullah Saw. Lalu beliau Saw. berdiri. (Salah seorang sahbat berkata): “Ya Rasullah, itu adalah jenazah seorang yahudi.” Jawab Rasulullah Saw.: “Bukankah ia (juga) seorang manusia?” (Shahih Muslim No.1596)

Sebagaimana dalam hadits shahih, beliau Saw. mengajarkan kepada kita adab yang tinggi ini. Kejadian itu merupakan salah satu bentuk perilaku yang diajarkan oleh Allah melalui firman-Nya dalam Q.S. Al-Isra’: 70. Dalam ayat itu dijelaskan bahwa Allah sangat memuliakan anak-anak Adam, bukan hanya satu golongan, etnis, ras atau agama tertentu.
 
Kisah lain bahwa Nabi Muhammad pernah menyesali dan merasa kecewa atas terbunuhnya seorang wanita yang ikut berperang antara kaum kafir dzalim dengan umat Muslim. Kala itu setelah perang Nabi Saw. berdiri di depan mayat wanita dan berkata “Tidak seharusnya wanita ini ikut berperang lalu terbunuh.”

Dari kisah itu, Nabi mengajari kita bahwa sesungguhnya kesejahteraan dan keselamatan untuk umat manusia lebih penting, dan bukan peperangan. Sejatinya hidup ini tidak lain adalah untuk meraih kehidupan yang damai dan tentram. Sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW yang amat memanusiakan manusia.
 
Nabi Muhammad adalah pribadi yang toleran, peredam perpecahan, beliau tidak pernah memaksakan kehendaknya. Bahkan sebelum diangkat menjadi Nabi sifat itu sudah ada. Kita mungkin telah mafhum tentang kisah ketika renovasi Ka’bah telah selesai. Para kabilah Arab berkumpul dan membahas peletakan Hajar aswad ke tempat semula.

Hingga akhirnya setelah melalui persyaratan tertentu beliaulah yang berhak menjalankan tugas mulia itu. Namun, beliau bukanlah orang egois, Ia kemudian membentangkan sorbannya untuk dijadikan alas hajar aswad dan mengajak tokoh-tokoh lain untuk bersama mengangkat dan meletakkannya bersama.

Dikisahkan juga tentang Zaid bin Saʻnah yang datang menemui Nabi untuk menagih hutang, padahal belum jatuh tempo. Saat itu Nabi baru saja selesai melaksanakan shalat jenazah bersama sahabat-sahabat besar diantaranya ada Abū Bakr ash-Ṣhiddīq, Umar bin Khaṭṭāb, Utsmān bin Affān (35 H) dan Alī bin Abī Ṭhālib. Zaid bin Saʻnah dengan wajah kasar langsung menghampiri dan mencengkeram pakaian Nabi seraya berkata: “Hei Muhammad! Lunasi hutangmu! Tak kusangka, keturunan Muṭṭhalib adalah orang yang suka menunda membayar hutang!”

Melihat perkataan dan perbuatan Zaid bin Saʻnah yang kasar kepada Nabi, Umar pun naik pitam. Namun Nabi Muhammad mencegahnya dengan halus dan penuh kasih sayang, bahkan meminta Umar untuk melunasi hutang kepada Zaid bin Saʻnah. Tidak hanya itu, Nabi bahkan memerintahkan Umar untuk memberi tambahan.

Dalam kisah itu, jika kita bayangkan terjadi dimasa kini tindakan Zaid bin San’ah dan naik pitamnya Sayyidina Umar bin Khattab adalah hulu dari adanya persekusi. Namun semua itu dapat dicegah oleh kebijaksanaan serta lemah lembut Nabi Muhammad yang merelakan perbuatan kasar Zaid itu. Lalu bagaimana dampak sikap Nabi yang seolah lemah itu? 

Kisah itu berlanjut dengan luluhnya hati Zaid bin Saʻnah yang kemudian masuk Islam. Tidak bisa dimungkiri bahwa seketika itu pula Zaid bin San’ah telah melihat seluruh tanda-tanda kenabian berupa sikap bijak seorang nabi yang baru saja ia buktikan ada pada diri Nabi Muhammad. Zaid bin Saʻnah bahkan saat itu juga menyedekahkan setengah dari harta yang ia miliki untuk kepentingan umat Islam. (‘Alāuddīn Alī bin Balabān al-Fārisī dalam Ṣhaḥīḥ Ibn Ḥibbān juz 1 halaman 521, Beirut: Mu’assasah al-Risālah, 2007, Muḥaqqiq: Syuʻaib al-Arnā’ūṭ).

Tindakan persekusi, terorisme dan ekstrimisme yang akhir-akhir ini terjadi secepatnya harus kita sudahi. Terlebih karena itu memang telah terbukti sebagai suatu tindakan yang amat jauh dari sikap nabi. Dalih sebagai jihad dan membela agama atau ulama tidak selayaknya dipakai.

Hal itu sebab tidak dicontohkan sebagaimana ketika Rasulullah ditimpa musibah berupa hinaan, ujaran kebencian bahkan perlakuan yang mencelakakan. Sebagai pemimpin agung Islam dan dunia Nabi selalu menolak untuk dibela oleh para sahabat. Sebagai pengikutnya kita selayaknya sadar untuk berkiblat dan mengikuti sifat baiknya itu.
 
Dalam momentum bulan mulia ini selayaknya kita juga banyak membaca (kembali) kisah hidup, biografi dan teladan sikapnya. Nabi pernah berkata bahwa Ramadhan adalah bulan jihad melawan nafsu. Marilah perkataan Nabi itu kita maknai sebagai jihad kita untuk melawan segala bentuk tindakan yang membahayakan.

Radikalis, ekstrimis, teroris termasuk persekusi harus kita hindari demi melaksanakan perintah Ilahi. Sebuah perintah menebar cinta dan kebaikan kepada sesama, membangun negara serupa surga dengan perilaku yang mulia. Sebagaimana dicontohkan oleh Nabi dan para sahabatnya.[NU Online]

Penulis adalah Anggota DPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB).

Related Posts

Pelaku Persekusi Tidak Pernah Mempelajari Akhlak Nabi Muhammad SAW
4/ 5
Oleh